Suaka Rhino Sumatera (SRS), penangkaran yang menyerupai Habitat Asli di Taman Nasional Way Kambas Lampung

                                                                        Nama:Rifqi R Hidayatullah

                                                      NIM :E34100090

 

Suaka Rhino Sumatera (SRS), penangkaran yang menyerupai Habitat Asli di Taman Nasional Way Kambas Lampung

Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatranensis) adalah mamalia berkuku ganjil (Perrysodactila), dan merupakan salah satu dari beberapa Badak yang ada di dunia. Fischer telah memberi marga Dicerorhinus kepada Badak Sumatera. habitat Badak Sumatra adalah daerah tergenang diatas permukaan laut sampai ke daerah pegunungan. Pada awalnya Badak  Sumatera hidup di Kalimantan, Sumatra, Semenanjung Malaysia, Burma, Kamboja sampai Vietnam tapi sekarang hanya ada di Sumatra dan Semenanjung Malaysia saja.

Secara taksonomi Badak Sumatra dapat di klasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Chordata

Sub Phylum     : Vertebrata

Super Kelas     : Gnatostomata

Kelas               : Mammalia

Super Ordo     : Mesaxonia

Ordo                : Perissodactiya

Super Family   : Rhinocerotides

Family             : Rhonocerotidae

Genus              : Dicerorhinus

Spesies            : Dicerorhinus sumatranensis Fischer, 1814

 

Gambar 1. Dicerorhinus sumatranensis dalam penangkaran di SRS

Popolasi Badak Sumatera berdasarkan data jejak (foot print) yang terdapat di habitat asli Taman Nasional Way Kambas (TNWK) hanya berjumlah 15-25 Ekor, di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) sebanyak 60-80 ekor dan di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) tinggal 2-3 ekor dari hasil survey tahun 2005. karena populasinya yang semakin sedikit maka banyak gagasan untuk pembinaan Badak di luar kawasan alami atau ex-situ, tidak hanya di dalam negeri tapi di luar negeri seperti Malaysia, Inggris, dan Amerika Serikatpun melakukan penangkaran.

Tabel 1.Penangkaran Badak Sumatera di Taman Satwa

No Negara Lokasi Penangkaran Jantan Betina Jumlah
1 Indonesia ü  Taman Satwa Ragunan Jakarta

0

1

1

ü  Taman Satwa Wonokromo – Surabaya

0

1

1

ü Taman Safari Indonesa-Bogor

1

1

2

Jumlah

1

3

4

2 Inggris ü  Prt.Lympne

1

1

2

ü  Jumlah

1

1

2

3 Malaysia ü  Malaca

1

2

3

ü  S.Dusun

1

4

5

ü  Sepilok

3

1

4

Jumlah

5

7

12

4 Amerika Srikat ü  Cincinnati

1

1

2

ü  L.Angeles

0

1

1

ü  S.Diego

1

1

2

Jumlah

2

3

5

  Jumlah  

9

14

23

Sumer: Taman Safari Indonesia

Dari tabel diatas terlihat sebanyak  23 Badak jantan maupun betina di coba untuk di kembang biakan, namun  hanya Cincinnati Zoo yang mampu melahirkan anak Badak Sumatra bernama Andalas. Kenapa SRS tidak mampu melahirkan anak badak? Ini di mungkinkan karena kurang memperhatikan Protokol (Tatacara Sistem Penangkaran) yang telah di Susun dalam Lokakarya Internasional khusus Badak Sumatera dan Jawa di Indonesia yang melibatkan pakar Badak dari seluruh dunia pada bulan Oktober 1991.

Tujuan Utama SRS (Suaka Rhino Sumatera)

SRS (Suaka Rhino Sumatera) di bangun pada tahun 1996 dan Badak Sumatera mulai masuk pada tahun 1998. SRS di bangun untuk pengembangan populasi Badak Sumatera, jika SRS berhasil mengembangbiakan Badak Sumatera maka akan di kembalikan ke habitat alaminya.

 

Kandang Penangkaran

Badak senang sekali berkubang, dan kubangan Badak umumnya di temukan pada daerah yang datar dengan panjang kira-kira 2 meter sampai 3 meter. Badak berprilaku pendiam dan penyendiri atau soliter, umumnya  pergerakan Badak diam-diam. Masa kehamilan Badak Sumatra berkisar anatara 16-18 bulan.

Penangkaran merupakan salah satu cara pelestarian, Penangkaran adalah hal yang perlu mendapatkan perhatian sedini mungkin untuk di wujudkan, karena potensi habitat yang mulai berkurang yang berdampak  mengurangnya penunjang reproduksi. Hal  pertama yang di lakukan adalah mengambil Badak Sumtra dari habitat asli atau dari kebun binatang, Jika mengabil dari habitat asli di lakukan dengan cara pembiusan. obat bius yang di gunakan untuk mebius Badak India dan Badak Putih Afrika adalah campuran ethorpine dan acetyl promazine dapat digunakan dengan hyoscine, dosis yang digunakan ethorpine sebanyak 2 mg / kg BB tapi penggunaan obat bius pada Badak Jawa belum pernah di coba sama sekali. Hal lain yang perlu di perhatikan dalam penangkaran satwa adalah datangnya penyakit, dan sumber penyakit atau infeksi yang biasa menyerang Badak Sumatra adalah dari makanan, air, manusia, alat yang di gunakan dalam mengambil pakan, tempat yang tidak memenuhi syarat, tikus, burung dan serangga tertentu sebagai agen pemindah penyakit. Beberapa penykit yang sering di temukan di kebun binatang adalah helminthiesis, endocarditis, coliform diarrhea, hepatitis biliari. Dalam usaha penangkaran Badak, kandang harus di buat sealami mungkin seperti habitat di alam agar satwa tidak stres, dengan demikian Badak  dapat melakukan aktivitas seperti biasa layaknya di habitat asli. Di dalam kandang Badak harus ada tempat berkubang yang berisi air lumpur, Kandang di buat tidak terlalu besar, setiap kandang sebaiknya di tanami pohon yang mirip dengan habitat aslinya, pagar kandang di buat agak jauh, sehingga sekeliling kandang agak luas dan badak leluasa bermain dan berkubang.

Keberhasilan

Sampai tahun 1997 keberhasilan penangkaran hanya 70% dan Badak Sumatera yang di distribusikan ke kebun binatang di Amerika Serikat, Inggris dan Malaysia banyak yang mengalami kematian. Sejak 1997 di SRS telah di tangkarkan sepasang Badak Sumatera (Torgamba-Bina) yang berasal dari Hewlett Zoo Inggris dan Taman Safari Indonesia. Di samping itu SRS juga di jadikan breeding center yg di harapkam menjadi pusat penelitian Badak Sumatera. Walau terjadi perkawinan 10 kali yang terjadi di SRS tapi sulit terjadi kehamilan karena berbagai faktor. Semoga saja Java Rhino Study Conseration Area (JRSCA) tidak bernasib sama seperti Suaka Rhino Sumatera (SRS).

Daftar Pustaka

Ahmad, Marizal.(tahun tidak di ketahui).Dampak pengembangan Suaka Badak      Sumatera Terhadap Ekosistem Taman Nasional Way Kambas.Artikel.Yayasan Mitra Rhino.Lampung

Djuri, Sudarsono.2009.Badak Sumatera (Dicerorhinus sumateranensis) Juga          Salah Satu Titipan Tuhan bagi Bangsa Indonesia.Cahaya Wana.Edisi 14      tahun 2009.

Handayani.2008.Analisis DNA Mitokondria Badak Sumatera dalam Konservasi    Genetik.Tesis.Magister Sains.Pascasarjana IPB.

Ramon, S. Widodo.2003.Semiloka Masa Depan Pengembangan Badak Sumatera (            Dicerorhinus sumateranensis Fisher 1814) di Suaka Rhino Sumatera         Taman Nasional Way Kambas Lampung di Bogor, September 2003.

Suzzana, Erna, Wresdianti Tutik.1991.Penangkaran Badak di Tinjau dari Segi        Penyakit.Media Konservasi.September 1991: 3(35-39).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s