Keanekaragaman Jenis Mamalia, Burung dan Herpetofauna di Tegakan Pinus Cangkurawok

Kampus IPB Dramaga

Diversity type of mammal, bird and herpetofauna in Standing Pine Cangkurawok Campus IPB Dramaga

Rifqi Rahmat Hidayatullah

Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, Indonesia Email : rifqibanten_ipb@yahoo.com, No. Telp : 085811233221

 

Abstract

Species diversity is the most fundamental of biological diversity (Ramadan EP, 2008), species diversity is the number of species that occupy an ecosystem both on land and in the waters of mutual mempengaruhi.Metode inventory used are: line transect (line method) to type mammals. Observation of birds calculated using IPA (Index Point of Abundance). As for the observations made with the kind of herpetofauna menggunakanmetode Visual Encounter Surveys (VES). In general, the observation is intended to be able to apply their knowledge and skills in the techniques of inventory using the line transect (transect line), IPA method (Index Point of Abundance), and the method of Visual Encounter Surveys (VES). Based on the observation of inventory mammals, birds and herpetofauna in pine stands Cangkurawok, Campus IPB Daramaga obtained the number density of mammals with line transect method for 87 ind/m2. Based on the observation of inventory mammals, birds and herpetofauna in pine stands Cangkurawo,. Bird species diversity index was (H ‘= 1.36), evenness index (E = 0.47), an index of species richness (Dmg = 2.64), species abundance index (K = 1114 ps / ha). To herpetofana diversity index (H ‘= 1.48), evenness index (E = 0.76), an index of species richness (Dmg = 1.59), an index of abundance of K = (1837) eng / index ha.Untuk mammals diversity (H ‘= 0.38), evenness index (E = 0.55), an index of species richness dmg = (0.27), P = population density (87 ind/m2), an index of abundance of K = (1668 id / ha). bird diversity in Pinus stands Cangkurawok of 1.36, which means diversity in Pinus stands Cangkurawok is included in the class was. that the diversity of mammals in pine stands Cangkurawok is 0.38, which means diversity of mammals included in the lower class. herpetofauna diversity in Pinus stands at 1.48 Cangkurawok this suggests that the diversity of herpetofauna in stands of Pinus Cangkurawok classified as moderate.

 

 

Keywords : diversity, Standing Pine Cangkurawok,mammal, bird and herpetofauna

Abstrak

Keanekaragaman jenis merupakan hal yang paling mendasar dari keanekaragaman hayati ( Ramadhan E.P, 2008), Keanekaragaman jenis adalah banyaknya spesies satwa yang menempati suatu ekosistem baik di darat maupun di perairan yang saling mempengaruhi.Metode  inventarisasi digunakan adalah: line transect (metode garis) untuk jenis mamalia. Pengamatan jenis burung dilakukan dengan menggunakan metode IPA (Index Point of Abundance). Sedangkan untuk pengamatan jenis herpetofauna dilakukan dengan menggunakanmetode Visual Encounter Surveys (VES). Secara umum pengamatan ini bertujuan untuk dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik-teknik inventarisasi dengan  menggunakan metode line transect (transek garis), metode IPA (Index Point of Abundance),  dan metode Visual Encounter Surveys (VES). Berdasarkan pengamatan inventarisasi mamalia, burung dan herpetofauna di tegakan Pinus Cangkurawok,  Kampus IPB Daramaga diperoleh jumlah kepadatan mamalia dengan metode line transect sebesar 87 ind/m2. Berdasarkan pengamatan inventarisasi mamalia, burung dan herpetofauna di tegakan Pinus Cangkurawo,. Indeks keragaman jenis burung adalah  (H’=1,36), indeks kemerataan jenis (E = 0,47), indeks kekayaan jenis (Dmg = 2,64), indeks kelimpahan jenis (K= 1114 id/ha). Untuk herpetofana Indeks keragaman (H’=1,48), indeks kemerataan jenis (E = 0,76),indeks kekayaan jenis (Dmg =1,59), indeks kelimpahan jenis K= (1837) ind/ha.Untuk mamalia Indeks keragaman (H’=0,38), indeks kemerataan jenis (E = 0,55), indeks kekayaan jenis Dmg = (0,27), Kepadatan populasi P=( 87 ind/m2 ), indeks kelimpahan jenis K= (1668 id/ha). keanekaragaman burung di Tegakan Pinus Cangkurawok  sebesar 1,36 yang berarti keanekaragaman di Tegakan Pinus Cangkurawok  ini termasuk dalam golongan sedang. bahwa keanekaragaman mamalia di Tegakan Pinus Cangkurawok adalah 0,38 yang artinya keanekaragaman mamalia termasuk dalam golongan rendah. keanekaragaman herpetofauna di Tegakan Pinus Cangkurawok  sebesar 1,48 hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman herpetofauna di tegakan Pinus Cangkurawok tergolong sedang.

 

 

Kata Kunci : Keanekaragaman, Tegakan Pinus Cangkurawok, mamalia, burung dan herpetofauna

 

 

 


Pendahuluan

Satwa merupakan satu komponen penting dalam kehidupan. Hal tersebut dapat terlihat dari manfaat yang diberikan satwa secara langsung maupun tidak langsung. Kampus IPB memiliki keanekaragaman satwaliar yang tinggi. Di areal kampus IPB paling tidak terdapat 12 jenis mamalia, 86 jenis burung, 37 jenis reptilia dab 4 jenis ikan (Hernowo et al 1991). Jenis satwa yang sering dijumpai merupakan jenis burung. Keanekaragaman jenis merupakan hal yang paling mendasar dari keanekaragaman hayati (Ramadhan E.P, 2008), Keanekaragaman jenis adalah banyaknya spesies satwa yang menempati suatu ekosistem baik di darat maupun di perairan yang saling mempengaruhi.

 

Pengamatan satwa merupakan bagian dari kegiatan untuk inventarisasi satwa. Inventarisasi satwa adalah kegiatan untuk mengetahui populasi jenis satwa dan habitatnya. Metode yang dapat digunakan dalam kegiatan inventarisasi satwa, yaitu;metode garis (line transek), metode jalur (strip transek), dan metode titik (IPA).

Metode line transek merupakan suatu petak contoh dimana seorang pengamat berjalan sepanjang garis transek dan mencatat setiap data yang diperlukan. Dalam menggunakan metode ini, lebar atau luas dari lokasi pengamatan tidak langsung ditetapkan. Seorang pengamat, dapat mencatat setaip jenis mamalia yang teramati walau sejauh jarak apapun sesuai dengan kemampuan jarak pandang masing-masing pengamat.Menurut Napitu (2007)  penggunaan line transek terdapat asumsi-asumsi yang harus diperhatikan, yaitu: satwa dan garis transek terletak secara random, satwa tidak bergerak/berpindah sebelum terdeteksi, tidak ada satwa yang terhitung dua kali (double counting), seekor satwa atau kelompok satwa berbeda satu sama lainnya. Seekor satwa yangterbang tidak mempengaruhi kegiatan satwa yang lainnya, respon tingkah laku satwa terhadap kedatangan pengamat tidak berubah selama dilakukan sensus, serta habitat homogen, bila tidak homogen dapat dipergunakan stratifikasi. Pada metode line transect (transek garis) pengamatan dilakukan pada unit contoh yang tidak ditentukan batas-batasnya. Desain pengamatan berbentuk garis transek lurus. Pada metode ini jarak diukur tegak lurus antara posisi satwa dengan garis transek. Metode ini dapat diterapkan pada marine mamals, mamalia dan burung. Adapun prinsip-prinsip yang harus dipenuhi adalah  satwa yang berada pada jalur atau dekat jalur harus bisa terdeteksi, posisi satwa yang diukur adalah posisi ketika pertama kali terlihat oleh pengamat,  jarak dan sudut pandang satwa terhadap jalur diukur , serta perjumpaan dengan satwa  mewakili kejadian yang bebas satu dengan lainnya.

Metode IPA (Indeks Point of Abundance) merupakan metode titik yang merupakan metode dimana pengamat diam pada suatu titik dengan ukuran lingkaran yang telah diketahui dan mencatat satwa apa saja yang masuk ke wilayah pengamatan. Metode Visual Encounter Survey (VES), yaitu pengambilan jenis satwa berdasarkan penglihatan langsung pada jalur yang telah ditentukan (Heyer et al. 1994).

Tujuan dari pengamatan ini adalah agar dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik-teknik inventarisasi dengan menggunakan metode line transect (transek garis), visual encounter survey (VES), dan Indeks Point of Abundance (IPA), menentukan ukuran populasi satwa berdasarkan metode tersebut serta dengan mempraktekkan metode tersebut diharapkan dapat mengetahui keefektifan penerapan metode-metode tersebut dalam kegiatan inventarisasi satwaliar.

 

Metodologi

Pengambilan data dengan menggunakan menggunakan metode line transect (transek garis) untuk mamalia, visual encounter survey (VES) untuk herpetofauna, dan Indeks pont of abundance (IPA) untuk burung dilakukan di tegakan karet, Cikabayan Kampus IPB Darmaga. Waktu pengamatan dilakukan mulai pada tanggal 10-12 Oktober 2012, setiap pagi dan sore untuk jenis mamalia dan burung sedangkan untuk herpetofauna dilakukan pada malam.

 

Bahan dan Alat

Alat-alat yang digunakan pada pengamatan ini adalah alat tulis, penunjuk waktu, meteran, kompas, binokuler, kamera, field guide buku panduan lapang dan tally sheet. Dengan mengamati mamalia, burung dan herpetofauna yang ada di tegakan karet, Cikabayan Kampus IPB Bogor.

 

Teknik pengambilan data

Metode line transect (Transek Garis)

Pada dasarnya metode transek garis (line transect)  hampir sama dengan meode transek jalur, langkah yang dilkaukan pun juga sama dengan metode transek jalur.  Namun,  perbedaan yang paling mendasar adalah: tidak ditentukan jarak ke kanan dan ke kiri, jarak antara satwa liar dan pengamat ditentukan, dan sudut kontak anatara satwa yang terdeteksi dengan jalur pengamatan harus dicatatat.

 

 

Gambar 1. Desain metode Line Transect (Transek Garis)

 

Metode IPA (index point of abundance)

Metode IPA (index point of abundance) merupakan metode pengamatan burung dengan mengambil sampel dari komunitas burung untuk dihitung dalam waktu dan lokasi tertentu. Pengamatan dilakukan dengan berdiri pada titik tertentu pada habitat yang diteliti kemudian mencatat perjumpaan terhadap burung dalam rentang waktu tertentu. Pengamatan dilakukan melalui perjumpaan langsung (visual) dan tidak langsung (suara). Parameter yang dicatat adalah jenis, jumlah yang ditemukan, aktivitas, posisi burung pada tajuk pohon, struktur dan jenis vegetasi yang digunakan burung. Perjumpaan terhadap jenis burung di luar titik pengamatan tidak diperhitungkan.

 

           
     
         
 

 

 

 

 

 

                                                                

 

 

 

 
   

 

 

Gambar 2.  Metode IPA (index point of abundance)

 

Metode VES (Visual Encounier Survey)

   Pengamat mencari secara langsung dan mencatat jumlah individu, komposisi dan kepadatan kelompok. Data jumlah individu didapat dengan menghitung individu dari semua kelompok. Komposisi kelompok dibagi berdasarkan struktur umur yang diidentifikasi dari ukuran tubuh dan perilakunya.  Kelompok dibedakan dengan mengidentifikasi jumlah, struktur umur, ciri fisik dan lokasi penemuan. Pengambilan data kepadatan populasi dilakukan dengan VES lapang untuk menemukan ukuran dan komposisi. Kelompok yang ditemukan sebisa mungkin diikuti sehingga data yang didapat semakin akurat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi anggota kelompok yang sedang memisahkan diri.

 

Analisis data

  1. Metode Line transect

Pendugaan populasi pada metode transek garis dapat dilakukan dengan menggunakan metode Poole ataupun Webb. Model untuk persamaan Poole (Poole Methods) adalah

        ∑ xi. (2∑ xi + 1)

D = ———————               

           2. ∑ Lj. dj       

                            

          ∑ ri . Sin θi                                    

dj = ——————-                  

                nj                                                   

 

P  = D.A

 

Keterangan:

D = Kepadatan populasi (indiv/km2)

 P  = Populasi dugaan (individu)

A  = luas wilayah pengamatan (km2)

xi    = jumlah individu pada kontak ke-i

Lj   = panjang transek jalur ke-j (m)

dj   = rata-rata lebar kiriatau kanan jalur ke j (m)

nj   = jumlah kontak pada jalur ke-j

 

  1. Metode IPA (index point of abundance)

Analisis data untuk kelimpahan individu :

n

(PA)j = Σ Xi

Πr2j

Dimana :

(PA)j     = Kelimpahan populasi pada titik                         pengamatan ke-j (individu/km2)

 xi          =   Jumlah individu yang dijumpai pada                           kontak ke-I selama periode tertentu.

 

  1. Indeks keanekaragaman jenis

Jenis yang ditemukan ditentukan Keanekaragaman Jenis dengan menggunakan persamaan indeks Shannon-Wiener (Brower & Zar 1997) sebagai berikut :

H’ =  -Σ Pi Ln Pi

Keterangan:

H’         = Indeks diversitas Shannon-Wiener

Pi          = Proporsi jenis ke-i

 

Nilai indeks ini dibandingkan untuk masing-masing lokasi. Kategori tingkat keanekaragaman jenis (Margalef 1972 dalam Magurran 1988):

 

Tabel 1. Klasifikasi nilai indeks keanekaragaman Shanon-Wiener

 

Nilai Indeks Shanon-Wiener

Kategori

>3

Keanekaragaman tinggi, penyebaran jumlah individu tiap spesies tinggi dan kestabilan komunitas tinggi.

1 – 3

Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiapspesies sedang dan kestabilan komunitas sedang.

< 1

Keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individu tiapspesies rendah dan kestabilan komunitas rendah.

 

  1. Indeks Kekayaan jenis

Dmg  =  S-1

                         In N

Keterangan :

Dmg      = Indek kekayaan jenis

S           = Jumlah Jenis

N           = Jumlah Total Individu

 

  1. Indeks kemerataan jenis

Untuk kemerataan jenis digunakan untuk mengetahui dominansi diantara setiap jenis dalam suatu lokasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai Evennes (Brower & Zar 1997) adalah :

E =  H’ / Ln S

Keterangan :

E           = Indeks kemerataan jenis

H’         = Indeks Shannon-Wiener

S           = Jumlah jenis

Kategori tingkat kemerataan (Santosa 1995):

E ≈ 1     : merata

E ≈ 0     : tidak merata

 

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan inventarisasi keanekaragaman mamalia, burung dan herpetofauna  yang dilaksanakan di Tegakan Karet Cikabayan, didapatkan jumlah kepadatan dan populasi dari ketiga metode yang digunakan.

 

Tabel 2. Rekapitulasi kepadatan dan populasi Satwa liar yang ditemukan di tegakan Pinus Cangkurawok

Spesies

Mamalia

Burung

Herpetofauna

Jumlah jenis

 

2

18

8

Jumlah individu

 

40

626

52

Kepadatan

 

87

ind/m2

 

 

 

Tabel 3. Rekapitulasi keanekaragamn jenis dan kemerataan jenis yang ditemukan di tegakan Pinus Cangkurawok

Spesies

Mamalia

Burung

Herpetofauna

Keanekaragaman jenis (H’)

 

    0,38

 

1,36

1,48

Kekayaan jenis (Dmg)

0,27

2,64

1,59

Kemerataan  Jenis (E’)

 

0,55

0,47

0,76

 

   Secara rinci informasi tentang kondisi populasi yang penting diperoleh melalui kegiatan inventarisasi diantaranya dalam rangka perumusan kebijaksanaan antara lain berupa (1) keadaan habitat dan data populasi termasuk status biologisnya (2) Peta penyebaran jenis beserta habitatnya dengan skala yang cukup rinci.Parameter populasi merupakan besaran/ukuran yang dapat  dijadikan bahan untuk ditindak lanjuti pada aktivitas management terhadap populasi. Dimana jumlah merupakan variabel yang menggambarkan banyaknya individu dalam populasi. Sedangkan kelimpahan (abundance) merupakan variabel yang menggambarkan ukuran/banyaknya populasi secara relatif. Berdasarkan hasil populasi maka dapat ditentukan kepadatan suatu spesies, dimana kepadatan (density) merupakan besaran populasi yang berkaitan dengan jumlah setiap unit luas atau ruang.

 

 

 

Herpetofauna

Menurut Alikodra (2002) habitat satwaliar yaitu suatu kesatuan dari faktor fisik maupun biotik yang digunakan untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Herpetofauna sangat menyukai tempat-tempat yang kondisi kelembabannya relatif tinggi dan dekat dengan badan air. Habitat amfibi relatif bervariasi seperti habitat sawah, rawa dan kolam (Fitri 2002) disesuaikan dengan morfologi masing-masing jenis. Menurut Iskandar (1998) amfibi dapat dikelompokan berdasarkan pemisahan habitat, yakni jenis yang berkaitan dengan kehidupan manusia, di atas pepohonan, habitat terganggu, sepanjang sungai, dan air yang mengalir, hutan primer, dan hutan sekunder.

Tidak jauh berbeda dengan amfibi, reptil juga menyukai habitat lembab dengan tajuk pohon yang rapat. Penyebaran reptil sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari yang mencapai daerah tersebut (Halliday dan Adler 2000 dalam Endarwin 2006).

Inventarisasi herpetofauna dilakukan sebanyak tiga  kali pengulangan selama tiga hari pada malam hari dengan menggunakan metode VES (Visual Encounier Survey)di tegakan Pinus Cangkurawok diperoleh 8 jenis. Dengan jumlah populasi 52 individu.

 Amfibi lebih sering ditemukan dibandingkan reptil karena amfibi memiliki efektifitas reproduksi yang tinggi dan memiliki kebutuhan akan makanan dan habitat yang lebih mudah ditemui. Reptil sebagian besar merupakan satwa karnivora sehingga jumlahnya lebih sedikit. Reptil sering memangsa amfibi sehingga jumlahnya tergantung pada amfibi yang ditemukan.

Berdasarkan data tersebut didapat keanekaragaman herpetofauna di Tegakan Pinus Cangkurawok  sebesar 1,48 hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman herpetofauna di tegakan Pinus Cangkurawok tergolong sedang. Kekayaan  jenisnya sebesar 1,59. Sedangkan kemerataan jenis yang didapat sebesaar 0,76 yang artinya kemerataan jenis herpetofauna di tegakan karet tergolong merata karena memiliki nilai indeks kemerataan jenis lebih dari satu.

Adapun beberapa kelamahan dan kelebihan dari metode line transek,  metode IPA maupun metode VES dalam pengunaan inventarisasi satwaliar. Metode Visual enconter survey yang merupakan modifikasi dari metode jelajah bebas dan belt transek kelebihan dari metode ini adalah  sangat cocok untuk digunakan mendata jenis dan mikrohabitat amfibi, metode ini juga memiliki kelemahan yaitu data yang didapatkan tidak dapat mencerminkan keadaan populasi seperti kepadatan (Heyer et al. 1994).

 

 

Mamalia

Inventarisasi Mamalia dilakukan sebanyak tiga kali dengan pengulangan setiap  pagi maupun sore pada tegakan karet cikabayan diperoleh dua jenis mamalia. Dengan jumlah kepadatan sebesar 87 ind/m2. Pengamatan yang telah dilakukan pada mamalia dengan metode line transect di dapat bahwa ada  jenis mamalia dengan jumlah 40  individu yang berada di Tegakan Pinus Cangkurawok. Jenis dan jumlah tersebut memberikan informasi bahwa keanekaragaman mamalia di Tegakan Pinus Cangkurawok adalah 0,38 yang artinya keanekaragaman mamalia termasuk dalam golongan rendah. Kekayaan jenis mamalia 2,64. Sedangkan kemerataannya sebesar 0,55 hal ini menunjukkan bahwa mamalia pada tegakan Pinus Cangkurawok tidak menyebar secara merata dikarenakan indeks kemerataan jenisnya kurang dari 1. 

 

Burung

 

Inventarisasi burung dilakukan sebanyak tiga kali dengan pengulangan setiap  pagi maupun sore pada tegakan Pinus Cangkurawok diperoleh 18 jenis burung.

Pada pengamatan burung dengan menggunakan metode IPA (Index Point of Abundance) terdapat  18 jenis burung dengan jumlah 626 individu. Berdasarkan data tersebut didapat keanekaragaman burung di Tegakan Pinus Cangkurawok  sebesar 1,36 yang berarti keanekaragaman di Tegakan Pinus Cangkurawok  ini termasuk dalam golongan sedang. Kekayaan  jenisnya sebesar 2,11. Sedangkan kemerataan jenis yang didapat adalah sebesar 0,47, hal ini menunjukkan bahwa kemerataan burung tidak merata karena memiliki nilai indeks kemerataan jenis kurang dari satu.

 

 

Kesimpulan

 

Berdasarkan pengamatan inventarisasi mamalia, burung dan herpetofauna di tegakan Pinus Cangkurawo,. Indeks keragaman jenis burung adalah  (H’=1,36), indeks kemerataan jenis (E = 0,47), indeks kekayaan jenis (Dmg = 2,64), indeks kelimpahan jenis (K= 1114 id/ha). Untuk herpetofana Indeks keragaman (H’=1,48), indeks kemerataan jenis (E = 0,76),indeks kekayaan jenis (Dmg =1,59), indeks kelimpahan jenis K= (1837) ind/ha.Untuk mamalia Indeks keragaman (H’=0,38), indeks kemerataan jenis (E = 0,55), indeks kekayaan jenis Dmg = (0,27), Kepadatan populasi P=( 87 ind/m2 ), indeks kelimpahan jenis K= (1668 id/ha). keanekaragaman burung di Tegakan Pinus Cangkurawok  sebesar 1,36 yang berarti keanekaragaman di Tegakan Pinus Cangkurawok  ini termasuk dalam golongan sedang. bahwa keanekaragaman mamalia di Tegakan Pinus Cangkurawok adalah 0,38 yang artinya keanekaragaman mamalia termasuk dalam golongan rendah. keanekaragaman herpetofauna di Tegakan Pinus Cangkurawok  sebesar 1,48 hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman herpetofauna di tegakan Pinus Cangkurawok tergolong sedang.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Alikodra HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB.

Brower JE dan Zar JH. 1997. Field and Laboratory Methods for General Ecology. Dubuge, Iowa: Wn.C. Brown Company Publisher.

Endarwin W. 2006. Keanekaragaman Jenis Reptil dan Biologi Cyrtodactylus fumosus Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung, Bengkulu. [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB.

Fitri A. 2002. Keanekaragaman Jenis Amfibi (Ordo Anura) di Kebun Raya Bogor. [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan,IPB.

 

Herwono, J.B. 1999. Kajian Pelestarian SatwaLiar di Kampus IPB Darmaga. Media Konservasi. 3(2) : 43 – 65.

Heyer WR, Donnelly MA, McDiarmid RW, dan Hayek LC. 1994. Measuring and Monitoring Biological Diversity: Standard Methods for Amphibians. Washington: Smithsonian Institution Press.

Iskandar DT. 1998. Amfibi Jawa dan Bali-Seri Panduan Lapangan. Bogor: Puslitbang LIPI.

 

Magurran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. New Jersey: Priceton University Press.

Napitu JP, Rahayungtyas, Ekasari I, Basuki T, Basori AF, Amri U dan Kurnia D. 2007. Konservasi Satwa Langka. Yogyakarta Universitas Yogyakata.

 

Ramadhan E.P. 2008. Study Keanekaragaman Mamalia Pada Beberapa Tipe Habitat di Stasiun Penelitian Pondok Ambung di Taman Nasional Tanjung Putting Kalimantan Tengah. Fakultas Kehutanan IPB.

 

Santosa Y. 1995. Teknik Pengukuran Keanekaragaman Satwaliar. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

 

 

 

 

 

 

 

.

Keanekaragaman Jenis Mamalia, Burung dan Herpetofauna di Tegakan Pinus Cangkurawok Kampus IPB Dramaga

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s